Ditinggalkan atau Meninggalkan?
Yehezkiel 8
Firman-Nya kepadaku: “kau lihatkah, hai anak
manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di dalam kegelapan,
masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka? Sebab mereka berkata:
TUHAN tidak melihat kita; TUHAN sudah meninggalkan tanah ini” (ayat
12)
Dalam kondisi tertentu kerap kali
kita sebagai manusia biasa mengalami pikiran-pikiran buntu, sehingga terlalu
mudah bagi kita mengambil keputusan untuk bertindak di luar kehendak Allah.
Sakit penyakit yang berkepanjangan menjadi contoh yang terlalu sering kita
temukan bagi seseorang untuk segera berkata: Mari kita pergi ke suatu tempat di
mana seseorang itu dapat disembuhkan dari penyakit apapun. Contoh kedua yang
kerap membuat seorang manusia menjalani kehidupan yang sesuai dengan cara
berpikiran yang pendek adalah keadaan ekonomi yang begitu sulit dan
berkepanjangan sehingga terlalu mudah melakukan keputusan-keputusan yang salah
supaya kebutuhan ekonomi tetap tercukupi. Ada banyak contoh lain di luar hal
itu, seperti keinginan seseorang untuk menjadi seorang yang terkemuka dalam
satu ajang pemilihan wakil rakyat misalnya. Bahkan pikiran-pikiran pendek
seorang manusia telah mengendalikan eksistensi kehadiran Allah di dalam diri
manusia itu.
Pertanyaannya sekarang, adakah Allah
sungguh-sungguh meninggalkan kehidupan kita? Benarkah penyakit yang kita derita
ini adalah perbuatan Allah karena Dia telah meninggalkan kita? Atau adakah
penderitaan ini adalah wujud dari Allah meninggalkan kita? Namun keputusan
seperti itulah yang kerap kita lontarkan saat kita mengalami yang demikian,
Bukan? Tapi apakah kita pernah mengoreksi pribadi kita, sejauh mana kita telah
meninggalkan Allah dan tidak membiarkan Dia berkuasa atas hidup kita, atas
pikiran kita yang pintas itu.
Telah nyata bagi Allah, begitu besar
dosa yang telah dilakukan oleh bangsa Israel melalui para tua-tua Israel.
Bahkan dengan sengaja mereka telah melakukan sesembahan berhala di samping
penyembahan kepada Allah mereka. Kalau begitu keadaannya, apakah Allah yang
meninggalkan kita? Apakah Allah yang mengakibatkan kita telah sakit atau kita
telah menderita? Sesungguhnya Allah memberikan penglihatan itu kepada
Yehezkiel, bahwa penderitaan yang terjadi atas bangsa Israel itu terjadi atas
kesalahan mereka sendiri, atas dosa mereka sendiri, yang telah beriktiar untuk
melakukan keputusan-keputusan dalam hidupnya yaitu ktputusan pribadi yang bukan
merupakan kehendak Allah.
Adakah kita saat ini sedang
mengalami penderitaan yang begitu berat? Adakah kita mengalami sakit-penyakit yang
sangat parah dan berkepanjangan dan merasa bahwa Allah meninggalkan Anda?
Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak beriktiar memberikan
celaka kepada umat-Nya yang setia kepada-Nya. Mari kita periksa diri kita,
jangan sampai penderitaan itu terjadi karena kita telah beriktiar untuk
meninggalkan Dia dengan berkata: Allah sudah meninggalkan kita mari kita cari
kesembuhan dari yang lain. Bahkan Firman Tuhan ini menegaskan kita hari ini,
lebih baik menderita dan mati di dalam Tuhan, daripada harus mendapatkan kebahagiaan
yang bukan berasal dari Allah.
Tuhan
kerap kali dalam pikiran kecilku aku beriktiar untuk menjauh dari Tuhan. Tolong
saya Tuhan supaya saya senantiasa mendekatkan diri kepada-Mu dalam keadaan
apapun, sehingga saya tetap hidup sekalipun saya sakit, sekalipun saya
menderita, Amin.
Posted By: Ev. Martupa Manalu, S.Th., M.Div.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar