Kolose 3:18 - 4:1
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia,.... (ayat 23)
Suatu
ketika, seorang tukang kayu datang menghadap majikannya dan mengatakan bahwa ia
akan segera pensiun dari pekerjaannya sebagai tukang karena usianya sudah tua.
Sang tukang ini juga mengatakan bahwa ia sangat menyesal karena tidak
mendapatkan penghasilan lagi dari pekerjaannya. Namun tukang ini berkata kepada
majikannya bahwa ia pasti sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sang
majikan sangat terkejut mendengar hal itu, lalu ia meminta karyawannya tadi
untuk membangun sebuah rumah lagi sebagai karya terakhirnya. Tukang ini pun
menyetujui akan membangun sebuah rumah sebagai karya terakhirnya, namun ia
berkata bahwa ia tidak akan sungguh-sungguh serius untuk membangun rumah
tersebut. Bahan-bahan yang dipakainya juga tidak akan menggunakan bahan-bahan
yang berkualitas. Setelah rumah itu selesai, sang majikan menyerahkan rumah
tersebut kepada tukang tadi dengan berkata: “Ambillah
rumah ini menjadi milikmu, sebagai tanda perpisahan dariku”.
Apa yang menjadi perenungan kita
jika kita berada pada posisi si tukang kayu tadi? Mungkin kita akan sangat
menyesal, karena seandainya saja kita tahu sebelumnya bahwa rumah itu akan
diberikan kepada kita, tentu kita akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh
dan menggunakan bahan yang berkualitas. Karena dengan demikian rumah yang kita
miliki itu akan menjadi rumah idaman yang kokoh dan kuat.
Membangun hidup adalah salah satu
tugas kita, anak-anak Tuhan. Contoh yang tepat untuk membangun hidup adalah
melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Jika kita
melakukan segala pekerjaan kita seperti untuk manusia, kita sama seperti si
tukang kayu di atas. Namun jika kita melakukannya seperti untuk Tuhan, maka
kita akan melakukan yang terbaik. Karena jika kita melakukan yang terbaik,
tentulah kita juga yang akan menikmati hasil dari pekerjaan kita. Mari
memulainya dari keluarga kita masing-masing. Bimbinglah anak-cucu kita dengan
kasih, memberilah dengan rela hati, dan layanilah dengan sukacita. Mari kita
melakukan semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Itulah yang
disebut dengan membangun hidup, sehingga hidup kita tidak kosong tapi terus
terisi dengan berkat-berkat Tuhan. Hidup kita terus terbangun dengan kokoh
sehingga kitapun akan menikmati hasilnya. Oleh: Ev. M. Manalu, M.Div.
Komitmen
Hari-hari
terus berlalu, saya berjanji akan membangun hidup dengan baik, sehingga hidupku
tidak kosong, tapi terisi dengan berkat-berkat Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar