Sabtu, 03 Agustus 2013

Sebaiknya Kita Tahu



Hidup Menurut Daging (Rom 8:5)

Istila yang dipakai untuk kata daging dalam Roma 8:5 ini adalah “sarka” yaitu tubuh yang dikuasai dosa. Kata sarka berasal dari akar kata sarx yang artinya mencakup beberapa hal seperti berikut: daging, tubuh, manusia, manusia (yang berdarah dan berdaging), tubuh (yang di dunia), tubuh (yang dikuasai dosa), jasmani, bangsa, ukuran manusia. kata ini dipakai dalam Perjanjian Baru sebanyak 147 X. Kata ini memiliki tendensi kasus seperti berikut: Noun feminism Singular Aktif. Noun adalah kata benda, yang dapat dimiliki tetapi dapat juga dibuang. Noun hendak menunjukkan bentuk dari kata sarx ini dalam diri manusia yang tiap-tiap manusia memiliki sarx ini pada dirinya. Feminim merupakan jenis kelamin yang dicondongkan kepada wanita, termasuk segala hal yang termasuk sifat dari wanita berada dalam kata benda ini: ia lemah, ia terlalu mencintai, sulit untuk melupakan, mudah termakan oleh perasaan, gampang emosi, suka menggerutu, mudah kesal, mudah termakan bujuk rayuan, dsb. Begitupun kata sarx pada ayat ini, menggambarkan keadaan daging manusia yang memiliki sifat yang sama dengan sifat ini. Singular menunjuk kepada keadaan jumlah yaitu tunggal atau satu. Sedangkan Aktif, menunjuk kepada aktifitas dari kata benda ini yang aktif menjadi satu benda yang diam di dalam diri manusia.
                Jika kita ambil satu saja pengertian dari sarx yaitu tubuh (yang dikuasai dosa), maka dapat kita mengerti sekarang, bahwa antara dosa dan tubuh sebenarnya dua hal yang berbeda; dan tidak pantas untuk disatukan. Namun karena sifat dosa ini adalah mengikat, seperti seorang wanita yang dirinya terikat dengan satu tali ikatan cinta, maka ia tidak akan gampang untuk melupakan ikatan itu, apalagi untuk melepaskannya begitu saja. Dosa melakukan hal yang sama, bahwa ia mengikat, sekali saja ia tinggal di dalam diri kita, maka ia akan mengikat dan tidak akan gampang atau begitu saja dosa itu akan terlepas dari kita. Ia akan aktif untuk berkarya dalam diri kita. Ia akan memberikan janji-janji yang manis yang mampu membuat daya pikat kita kuat terhadap kita, sehingga kita menyukai hal ini. Jumlah tunggal juga mengingatkan kita saat ini, bahwa pada mulanya ia akan memikat kita dengan satu bentuk dosa, tidak banyak dimulai dari satu saja, dan dia akan berupaya secara aktif membuat kita terpikat olehnya.
                Kata sarx berikutnya masih dalam ayat yang sama memiliki pengeritian yang sama, namun memiliki perbedaan dalam arah kasusnya. Jika sarx di atas kasus yang dipakai adalah aktif, maka kata sarx yang kedua menggunakan kasus genetif. Genetif merupakan satu kasus yang umumnya menyatakan satu bentu “kepemilikan”. Bayangkan sarx yang tadinya aktif bekerja dalam diri manusia, aktif memberikan daya pikat bagi manusia, aktif membujuk manusia untuk hidup menurut dosa, sekarang ia berubah menjadi predikat ia sekarang bukan sekedar aktif, tapi ia berupaya menjadi satu daging dengan manusia layaknya seperti suami istri yang hidup menjadi satu daging. Ia sekarang telah menjadi genetif ia berupaya mengikat dirinya sekuat mungkin sehingga ia menjadi miliki kita, dan kita menjadi miliknya.
                Apa yang terlintas dalam benak kita tentang kepemilikian? Tentunya adalah “tidak ingin kehilangan”, bukan? Ya, jika kita sudah mencintai satu dosa itu, bahkan hidup di dalamnya, menyukainya, menyayanginya, kita akan cinta mati untuk dosa itu, kita akan memilikinya dan kita akan sulit untuk melepaskannya, sebab kita sudah diikat. Kita diikat untuk tetap setia kepadanya, tetap sayang kepadanya, tetap cinta kepadanya. Karena itu kita takut kehilangan dia. Inilah indikasi yang luar biasa kepada pengertian kita sekarang, bahwa orang yang sudah hidup dalam satu dosa tertentu, ia akan cinta mati dengan dosa itu, akan terikat dengan dosa itu, akan tidak mau bersedia kehilangan dosa itu, dan ia mau terus-menerus hidup di dalam dosa itu. Dengan demikian jika kita hidup di dalam sarx ini, maka kita sedang mengalami perserteruan dengan Allah, yang notabenenya adalah Pribadi Sang pembawa Damai. Kalau sudah demikian, apa jadinya jika kita memberontak terhadap Sang Pembawa Damai? Tuhan Yesus Memberkati kita semua, Amin. By: Ev. Martupa Manalu, S.Th., M.Div.


Menarik Tema Ketaatan Dalam Kisah "Yesus Meredakan Angin Ribut" Dalam Markus 4:35-41

            Umumnya dalam setiap pengajaran-Nya, Yesus kerap kali berkata kepada para pengikut-Nya supaya jangan takut, tetap ikut janji Tuhan Yesus, tetap ingat akan penyertaan-Nya, tetap setia kepada-Nya. namun ternyata lagi-lagi iman para murid ini harus diuji, dan kali ini dengan angin ribut di danau. Sudah sangat jelas pada kalimat pertama dikatakan bahwa Yesus hadir di antara mereka, ada di dalam salah satu perahu mereka dan perahu yang lain juga turut menyertai perahu di mana Yesus hadir di sana. Namun saat angin ribut itu datang, dan mulai mengombang-ambingkan perahu mereka, mereka mengalami ketakutan, sementara mereka sedang berada di mana Yesus ada dalam situasi mereka.
            Cukup menarik satu kata Yunani hupakouei yang diartikan menjadi taat, telah digunakan oleh Tuhan Yesus untuk menggambarkan situasi dimana Danau itu menjadi tenang. Tuhan Yesus telah membuat angin dan danau itu taat kepada-Nya. mengapa demikian? Ada beberapa hal:
1.      Manusia telah gagal mengingat penyertaan Allah
2.      Manusia telah gagal untuk tetap setia kepada janji-janji Allah
3.      Manusia telah gagal untuk tetap teguh dalam penyertaan Allah
4.      Manusia telah gagal untuk mempercayai-Nya secara utuh
5.      Manusia telah gagal sebagai satu pribadi yang seharusnya taat kepada apa yang Allah inginkan.
Setidaknya kelima hal inilah yang menjadi pegangan hidup para murid saat itu, sehingga Ia membuat supaya mereka sadar, bahwa jika para murid gagal untuk melakukan perintah Allah, Tuhan sanggup membuat angin, membuat Danau untuk taat kepada-Nya. Ini seharusnya menjadi hal yang sangat memalukan bagi manusia, di mana seolah-olah, angin dan danau jauh lebih memiliki kepekaan terhadap Tuhan dibanding dengan manusia. (Posted by: Ev. Martupa Manalu, S.Th., M.Div.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar