Hidup Menurut Daging
(Rom 8:5)
Istila yang
dipakai untuk kata daging dalam Roma 8:5 ini adalah “sarka” yaitu tubuh yang
dikuasai dosa. Kata sarka berasal
dari akar kata sarx yang artinya
mencakup beberapa hal seperti berikut: daging, tubuh, manusia, manusia (yang
berdarah dan berdaging), tubuh (yang di dunia), tubuh (yang dikuasai dosa),
jasmani, bangsa, ukuran manusia. kata ini dipakai dalam Perjanjian Baru
sebanyak 147 X. Kata ini memiliki tendensi kasus seperti berikut: Noun feminism Singular Aktif. Noun
adalah kata benda, yang dapat dimiliki tetapi dapat juga dibuang. Noun hendak
menunjukkan bentuk dari kata sarx ini
dalam diri manusia yang tiap-tiap manusia memiliki sarx ini pada dirinya. Feminim merupakan jenis kelamin yang
dicondongkan kepada wanita, termasuk segala hal yang termasuk sifat dari wanita
berada dalam kata benda ini: ia lemah, ia terlalu mencintai, sulit untuk
melupakan, mudah termakan oleh perasaan, gampang emosi, suka menggerutu, mudah
kesal, mudah termakan bujuk rayuan, dsb. Begitupun kata sarx pada ayat ini, menggambarkan keadaan daging manusia yang
memiliki sifat yang sama dengan sifat ini. Singular menunjuk kepada keadaan
jumlah yaitu tunggal atau satu. Sedangkan Aktif, menunjuk kepada aktifitas dari
kata benda ini yang aktif menjadi satu benda yang diam di dalam diri manusia.
Jika
kita ambil satu saja pengertian dari sarx
yaitu tubuh (yang dikuasai dosa), maka dapat kita mengerti sekarang, bahwa
antara dosa dan tubuh sebenarnya dua hal yang berbeda; dan tidak pantas untuk
disatukan. Namun karena sifat dosa ini adalah mengikat, seperti seorang wanita
yang dirinya terikat dengan satu tali ikatan cinta, maka ia tidak akan gampang
untuk melupakan ikatan itu, apalagi untuk melepaskannya begitu saja. Dosa
melakukan hal yang sama, bahwa ia mengikat, sekali saja ia tinggal di dalam
diri kita, maka ia akan mengikat dan tidak akan gampang atau begitu saja dosa
itu akan terlepas dari kita. Ia akan aktif untuk berkarya dalam diri kita. Ia
akan memberikan janji-janji yang manis yang mampu membuat daya pikat kita kuat
terhadap kita, sehingga kita menyukai hal ini. Jumlah tunggal juga mengingatkan
kita saat ini, bahwa pada mulanya ia akan memikat kita dengan satu bentuk dosa,
tidak banyak dimulai dari satu saja, dan dia akan berupaya secara aktif membuat
kita terpikat olehnya.
Kata
sarx berikutnya masih dalam ayat yang
sama memiliki pengeritian yang sama, namun memiliki perbedaan dalam arah
kasusnya. Jika sarx di atas kasus
yang dipakai adalah aktif, maka kata sarx yang kedua menggunakan kasus genetif. Genetif merupakan satu kasus
yang umumnya menyatakan satu bentu “kepemilikan”. Bayangkan sarx yang tadinya aktif bekerja dalam
diri manusia, aktif memberikan daya pikat bagi manusia, aktif membujuk manusia
untuk hidup menurut dosa, sekarang ia berubah menjadi predikat ia sekarang bukan sekedar aktif, tapi ia berupaya menjadi
satu daging dengan manusia layaknya seperti suami istri yang hidup menjadi satu
daging. Ia sekarang telah menjadi genetif
ia berupaya mengikat dirinya sekuat mungkin sehingga ia menjadi miliki
kita, dan kita menjadi miliknya.
Apa
yang terlintas dalam benak kita tentang kepemilikian? Tentunya adalah “tidak
ingin kehilangan”, bukan? Ya, jika kita sudah mencintai satu dosa itu, bahkan
hidup di dalamnya, menyukainya, menyayanginya, kita akan cinta mati untuk dosa
itu, kita akan memilikinya dan kita akan sulit untuk melepaskannya, sebab kita
sudah diikat. Kita diikat untuk tetap setia kepadanya, tetap sayang kepadanya,
tetap cinta kepadanya. Karena itu kita takut kehilangan dia. Inilah indikasi
yang luar biasa kepada pengertian kita sekarang, bahwa orang yang sudah hidup
dalam satu dosa tertentu, ia akan cinta mati dengan dosa itu, akan terikat
dengan dosa itu, akan tidak mau bersedia kehilangan dosa itu, dan ia mau
terus-menerus hidup di dalam dosa itu. Dengan demikian jika kita hidup di dalam
sarx ini, maka kita sedang mengalami
perserteruan dengan Allah, yang notabenenya adalah Pribadi Sang pembawa Damai.
Kalau sudah demikian, apa jadinya jika kita memberontak terhadap Sang Pembawa
Damai? Tuhan Yesus Memberkati kita semua, Amin. By: Ev. Martupa Manalu, S.Th., M.Div.
Menarik Tema Ketaatan Dalam Kisah "Yesus Meredakan Angin Ribut" Dalam Markus 4:35-41
Umumnya dalam setiap pengajaran-Nya,
Yesus kerap kali berkata kepada para pengikut-Nya supaya jangan takut, tetap
ikut janji Tuhan Yesus, tetap ingat akan penyertaan-Nya, tetap setia
kepada-Nya. namun ternyata lagi-lagi iman para murid ini harus diuji, dan kali
ini dengan angin ribut di danau. Sudah sangat jelas pada kalimat pertama
dikatakan bahwa Yesus hadir di antara mereka, ada di dalam salah satu perahu
mereka dan perahu yang lain juga turut menyertai perahu di mana Yesus hadir di
sana. Namun saat angin ribut itu datang, dan mulai mengombang-ambingkan perahu
mereka, mereka mengalami ketakutan, sementara mereka sedang berada di mana
Yesus ada dalam situasi mereka.
Cukup menarik satu kata Yunani hupakouei yang diartikan menjadi taat,
telah digunakan oleh Tuhan Yesus untuk menggambarkan situasi dimana Danau itu
menjadi tenang. Tuhan Yesus telah membuat angin dan danau itu taat kepada-Nya.
mengapa demikian? Ada beberapa hal:
1. Manusia telah gagal
mengingat penyertaan Allah
2. Manusia telah gagal untuk
tetap setia kepada janji-janji Allah
3. Manusia telah gagal untuk
tetap teguh dalam penyertaan Allah
4. Manusia telah gagal untuk
mempercayai-Nya secara utuh
5. Manusia telah gagal sebagai
satu pribadi yang seharusnya taat kepada apa yang Allah inginkan.
Setidaknya kelima hal inilah yang menjadi pegangan
hidup para murid saat itu, sehingga Ia membuat supaya mereka sadar, bahwa jika
para murid gagal untuk melakukan perintah Allah, Tuhan sanggup membuat angin,
membuat Danau untuk taat kepada-Nya. Ini seharusnya menjadi hal yang sangat
memalukan bagi manusia, di mana seolah-olah, angin dan danau jauh lebih
memiliki kepekaan terhadap Tuhan dibanding dengan manusia. (Posted by: Ev. Martupa Manalu, S.Th., M.Div.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar